Rabu, 09 Februari 2011

PUISI

“SAJAK LUKA HATI”
ENDANG TITI PURWANI
LELAHKU
sendiriku menggapai mimpi
merenda esok yang kian menepi
gemuruh suara hati menyeretku
ke dalam lorong gelap tak beretepi

berkali aku teriak di sana
menanti jawab Mu
namun gema kepedihankulah yang hinggap di ujung telinga

haruskah lelah ini aku sudahi?
sanggupkah ku tatap mentariku esok hari?
tidakkah ia akan redup bersama lelah yang tak kuasa lagi ku elakkan.

SENDIRI ITU INDAH
kala diri terjebak dalam harap
rantai-rantaipun laksana sutra bergelayut
indah bak pelangi bertabur seribu bidadari

taksadar bila mata-mata memandang penuh iba
tak peduli ketika air mata suci menetes untuk kesekian kali

bukannya aku tak mau sadar
bukan pula aku tak mau peduli

aku hanya ingin indah dalah hidupku
denganmu aku tak indah, dengan dia aku tak indah, dengan merekapun aku tak indah

biar kunikmati indah itu sendiri
NASIB SI GILA
si gila adalah sosok penanti
penanti sejati
dengan segala kediaman bila ia telah lelah
dan berontak dengan seribu bahasa bila sadar menyapanya

tak usah risaukan dia
dunia telah meninggalkan jiwanya

kini dia menanti diantara dua kemungkinan
harapanpun tak lebih dari dua
duni akan kembali padanya
atau jiwa itu akan ikut meninggalkannya

tak ada yang tahu
tak mau tahu…
                   ANAKKU….
menatapmu
dalam kesunyian malam
membuatku semakin menghiba
akankan hidupmu esok kan kau renda dengan bahagia

sedang kini
tanganku begitu kaku
tak bisa berbuat lebih untukmu

mulutku begitu bisu
tak bisa bercerita yang indah-indah sekedar pelipur lara

Tuhan, pantaskah aku di sisihnya


aku adalah sosok yang telah gagal
dalam hidup dan kehidupan
aku adalah sosok yang rapuh dan tak berdaya

aku adalah sosok yang ditinggalkan
oleh masa, cinta dan harapan

aku adalah sosok yang tak perlu ada
untuk kamu, dia, atau mereka





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar