Rabu, 09 Februari 2011

UNSUR INTRINSIK KARYA SASTRA

Menjelaskan Alur, Pelaku, dan Latar Novel Remaja
Jika membaca novel mungkin kita bisa mendapatkan tokoh cerita yang berdialog dengan dirinya sendiri. Tokoh dalam  cerita, termasuk  novel adalah simbolisasi dari  tokoh manusia pada umumnya. Tokoh digerakkan oleh alur. Alur hanya dapat hidup dengan latar yang rasional. Berkaitan dengan hal itu, pada bagian ini, kamu diajak untuk memahami alur, tokoh, dan latar novel. Aktivitas pembelajaran yang harus kamu lakukan untuk menguasai kompetensi menjelaskan alur, pelaku, dan latar novel remaja adalah   (1)  memahami alur novel remaja, (2) memahami tokoh novel remaja, dan (3) memahami latar novel remaja.
1.  Memahami Alur Novel Remaja
      Alur merupakan rangkaian peristiwa. Dalam penceritaan,  peristiwa yang terjadi di awal diceritakan lebih dahulu, baru peristiwa yang terjadi berikutnya diceritakan berikutnya pula. Ini cara penceritaan yang paling lazim. Alur  cerita yang demikian disebut alur maju atau alur kronologis. Akan tetapi, penceritaan tidak selalu dilakukan secara kronologis. Bisa juga terjadi model penceritaan yang sebaliknya, yakni peristiwa yang terjadi kini diceritakan lebih dulu, baru kemudian  cerita masa lalu. Inilah yang disebut alur mundur.
      Sebagai contoh, berikut diberikan kutipan dari  novel remaja yang berjudul  Philo Phobia karya Tessa Intanya (2006). Kamu dapat memperhatikan model alur apakah yang ada pada kutipan berikut.
Andra itu penakut! Gue inget banget pas masih kecil, dia tuh gampang banget diintimidasi sama anak-anak cowok lainnya. Makanya, sering dijadiin tumbal kalau ada apa-apa. Sampai-sampai dia tuh pernah dimarahin Pak RT, gara-gara disangka ngisengin anjing, padahal sebenarnya bukan dia yang ngisengin, Si Jenggo  (hlm. 18).
                        Jelaskan mengapa alur tersebut adalah  alur mundur. Tunjukkan bukti yang menguatkan!
2.  Memahami Tokoh Novel Remaja
            Gambaran watak atau  tokoh seorang pelaku pada novel dapat dijelaskan dengan beberapa cara, yang di antaranya melalui cerita penulis novel, dialog antartokoh, atau kebiasaan yang dilakukan oleh  tokoh. Nah, berikut ini disajikan kutipan novel remaja Philo Phobia karya Tessa  Intanya (2006). Dari kutipan tersebut, coba temukan bagaimana karakter Alandra!   
Gaya seorang Alandra itu tuh ketebak dan banget kebaca banget. Standarlah, yang lagi  “in” pasti dia pakai. Kadang gue mikir, dia itu korban mode berat! But, mainly sih, gaya dia itu cocok sama tampang dan postur tubuhnya. Jadi, gue nggak bisa banyak komentar. Yang nggak pernah luput dari seorang Andra itu adalah koleksi sepatunya yang beratus-ratus. Tapi herannya, dia paling suka sneater kumelnya yang gue beliin dua tahun lalu, on his 19th  birthday  (hlm. 14).
Sebutkan pula bukti terhadap karakter Alandra dari novel Philo Phobia tersebut.
3.  Memahami Latar Novel Remaja
            Latar dapat terdiri atas tempat dan waktu. Untuk menggambarkan di mana tempat peristiwa dalam sebuah novel berlangsung, penulis menggunakan beragam cara kreatif. Nah, pahami dan tebak kira-kira di mana tempat cerita dalam kutipan  novel remaja Philo Phobia karya Tessa  Intanya (2006) berikut ini?
Gaya seorang Alandra itu tuh ketebak dan banget kebaca banget. Standarlah, yang lagi  “in” pasti dia pakai. Kadang gue mikir, dia itu korban mode berat! But, mainly sih, gaya dia itu cocok sama tampang dan postur tubuhnya. Jadi, gue nggak bisa banyak komentar. Yang nggak pernah luput dari seorang Andra itu adalah koleksi sepatunya yang beratus-ratus. Tapi herannya, dia paling suka sneater kumelnya yang gue beliin dua tahun lalu, on his 19th   birthday  (hlm. 14). Walau setiap harinya ada berjuta-juta kisah cinta yang terjadi di seluruh duinia, ratusan ribu kisah  cinta terjalin di Jakarta. Beribu-ribu pasangan yang jadian setiap harinya, beratus-ratus orang ngrasain perasaan cinta dan jatuh cinta, bahkan puluhan sahabat yang akhirnya bisa menjadi pacar… (hlm. 380) .  Nah, sekarang jelaskan pula alasanmu!
B.     Mengomentari Kutipan Novel Remaja
Berbagai bacaan  dapat diklasifkasikan ke dalam beberapa macam bergantung kepada sudut pandang pengklasifkasiannya. Ada bacaan yang berupa majalah, seperti Kawanku, Hai, Gadis, Fit, dan Komputer Aktif. Ada surat kabar, seperti Kompas, Repu-blika, Suara Pembaharuan, Media Indonesia, dan  Jakarta Post. Disamping itu, kita juga dapat melihat novel dalam satu kelompok yang lain. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Si Dul Anak Jakarta, dan lainnya. Tentu kamu telah berpengalaman membaca berbagai bentuk bacaan tersebut. Pastilah pula kamu mengetahui bahwa setiap kelompok bacaan  memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh kelompok bacaan lainnya. Ciri-ciri itu menjadi sangat penting diketahui ketika kita harus memberikan komentar terhadapnya. Sekarang jika kamu diminta untuk memberikan komentar terhadap sesuatu, misalnya novel, apa yang seharusnya kamu lakukan? Tentulah kamu harus membaca lebih dahulu novel tersebut; bahkan mungkin tidak hanya sekali membacanya. Dalam membaca novel kita dapat menemukan unsur-unsur yang membangunnya a internal, yang dikenal sebagai unsur  intrinsik, seperti  tema, alur, penokohan,  latar, serta amanat.
Disamping itu, kita dapat menemukan keunikan novel tersebut bila dibandingkan dengan novel lainnya, baik tersirat di dalamnya maupun yang tersurat dalam narasi. Aktivitas pembelajaran yang harus kamu lakukan untuk menguasai kompetensi mengomentari kutipan  yang dibaca adalah (1) mengenali pemaparan isi novel dan (2) menulis komentar terhadap novel.
1. Mengenali  Pemaparan Isi Novel
Apa perbedaan buku  ilmiah,  ilmiah  populer, dan  novel? Kesemua buku tersebut memiliki ciri yang berbeda, yakni bukan hanya pada penampilan sampul dan judulnya amun  lebih pada teknik pemaparannya. Demikian juga antara  Harry Potter, Lima ekawan, atau  novel remaja  Philo Phobia,  Aprodaed,   dan  Luv Me pastilah memiliki perbedaan dalam model pemaparannya.
Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, berikut ini disajikan judul bab per bab. Meskipun demikian, dari sajian judul bab itu kita dapat menggambarkan isi buku tersebut secara global.
Harry Potter 1 Batu Bertuah
Lima Sekawan Nyaris Terjebak

BAB I Anak laki-laki yang Bertahan Hidup
Menyusun Rencana Liburan
BAB II Kaca Yang Lenyap
Berangkat
Bab III  Surat Dari Entah Siapa
Kemah Pertama
BAB IV Si Pemegang Kunci
Richard
BAB V Diagon Alley
Lima Tambah Satu
BAB VI Perjalanan dari Peron Sembilan
Kejadian-kejadian Aneh
Tiga Perempat
Cerita Richard yang Aneh
BAB VII Topi Seleksi
Sekarang Bagaimana?
BAB VIII Ahli Ramuan
Di Bawah Sinar Bulan
BAB IX Duel Tengah Malam
Owl’s Dene di Atas Owl’s Hill
BAB X Quidditch
Terjebak!
BAB XI Cermin Tarsah
Julian Menyelidik
BAB XII Nicolas Flamel
Rahasia Aneh
BAB XIII Norbert Si Naga Pung-gung
Roocky Marah
Bersirip Norwegia
Terkurung!
BAB XIV Hutan Terlarang
Aggie dan Si Bongkok
BAB XV Menembus Pintu Jebakan
Julian Dapat Akal
BAB XVI Laki-laki Dengan Dua Wajah
Cari Richard!

Pengalaman Richard

Ruang Rahasia

Akhir yang Menegangkan
            Jika kamu pernah membaca buku aslinya, sekarang coba temukan perbedaan yang menonjol di antara keduanya.  Benar, pada Harry Potter, umur tokohnya bertambah, sedangkan pada  Lima Sekawan, umur tokohnya tetap. Itu merupakan sebagian dari perbedaan dua buah buku. Nah, semakin rajin membaca buku yang beragam, semakin banyak pula perbedaan yang kamu temukan.
            Bagaimana pengarang membagi isi  novel? Amati judul-judul bab dalam  novel di atas! Apa hubungan judul bab dalam novel tersebut dengan  judul novel tersebut? Apa gunanya judul bab tersebut dalam upaya memahami isi novel?
2.  Menulis Komentar terhadap Novel
            Dalam pembelajaran  kali ini sebaiknya ada seorang temanmu yang membacakan sebagian (fragmen) dari sebuah novel remaja. Sementara itu, kamu dan yang lainnya memperhatikan. Setelah mendengarkan dengan cermat, buatlah komentar terhadap novel yang baru saja kamu dengarkan.
            Dalam memberikan komentar kamu boleh memberikan tanggapan terhadap  alur, tokoh, latar, dan pesan cerita. Kamu juga dapat mengomentari teknik pemaparan atau apa saja yang paling menggelitik.
            Baiklah, untuk memberikan gambaran yang konkret, berikut ini disajikan contoh komentar terhadap buku Harry Potter.
            Hermione Granger, Ron Weasley, dan Harry Potter dilukiskan merasa sedih apabila libur sekolah tiba. Sekolah Hogwarts, tempat ketiga anak itu belajar, memang merupakan dunia yang mengasyikkan bagi mereka. Mereka belajar ilmu “fsika” dan “kimia” lewat percobaan-percobaan di kelas yang menakjubkan. Ada ramuan Polijus, ada efek Mantra Balik, dan pelbagai pengalaman nyata yang memperkaya batin mereka. Bahkan, di sekolah itu, buku-buku pun dihidupkan sedemikian rupa sehingga membuat para siswa, terutama Hermione, keranjingan membaca. Rowling, pencipta  karakter tiga sosok remaja yang menjadi pemeran penting dalam novel gatasi Harry Potter, seperti ingin menyindir sekolah-sekolah masa kini yang cenderung membosankan. Sekolah-sekolah masa kini sudah kehilangan “sihir”-nya. Di “Dunia Harry Potter”, Rowling memang membawa para pembacanya untuk memasuki alam khayal, alam yang penuh dengan keajaiban akibat sihir. Namun, bukankah sebenarnya ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah-sekolah—fsika, kima, biologi, bahasa, sejarah, matematika, dan lain-lain penuh dengan keajaiban?   Semua ilmu, sesungguhnya, senantiasa membawa hal-hal baru kepada para penuntut ilmu. Inilah keajaibannya. Tidak ada ilmu yang tidak layak dipelajari bagi seorang sisiwa yang baru naik ke jenjang sekolah barunya. Ilmu apa pun yang bersifat mencahayai akan memperluas wawasan dan memperkaya prespektif. Namun, mengapa, seolah-olah, belajar ilmu yang baru di sekolah itu kini menjadi sesuatu yang tampak sepertinyamembosankan dan tak membangkitkan gairah, baik yang  mengajarkan maupun yang diajar?

 Saya tertarik membaca novel fantasi Harry Potter lantaran kisah-kisah yang dirangkai Rowling berhasil membangkitkan imajinasi saya, terutama, berkaitan dengan sekolah. Beredarnya karya Rowling ke Indonesia hampir bersamaan dengan beredarnya pelbagai buku yang berisi revolusi pembelajaran di sekolah. Revolusi pembelajaran itu rata-rata menawarkan alternatif baru dalam belajar, terutama berkaitan dengan metode belajar, yang membuat suasana belajar dapat dilangsungkan secara meriah dan menggairahkan. Tak cuma itu. Metode-metode baru belajar itu pun mengklaim dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran karena metode belajar yang ditawarkan tersebut disesuaikan dengan bagaimana seharusnya otak bekerja.

Nah, ternyata dalam memberikan komentar bisa apa saja dituliskan. Faktor imajinasi yang paling menggelitik  juga dapat disajikan. Tentunya, kamu juga bisa menuliskan komentar terhadap  novel remaja yang pernah kamu baca. Sekarang berikanlah komentar seperti contoh di depan terhadap novel yang kamu baca!




Kerjakan perintah berikut!
1.       Bacalah penggalan  novel  Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari berikut! Temukan alur,  perwatakan, latar dan berikan komentar/tanggapan!

  Tak mengetahui aku membuntutinya, Srintil terus berjalan. Langkahnya berkelok menghindari tonggak-tonggak nisan, atau pohon kamboja yang tumbuh rapat. Setelah berbelok ke kiri, angkah
Srintil lurus menuju cungkup makam Ki Secamenggala. Kulihat Srintil jongkok, menaruh sesaji di depan pintu makam. Ketika bangkit dan berbalik, ronggeng itu terperanjat. Aku berdiri hanya dua langkah di depannya.  “He, kau, Rasus?”  “Aku mengikutimu.”  “Aku disuruh Nyai artareja menaruh sesaji itu. Bukankah malam nanti….”  “Cukup! Aku sudah tahu malam nanti kau harus menempuh bukak-klambu,” aku memotong cepat. Habis berkata demikian aku melangkah pergi. Tetapi Srintil menarik bajuku.  “Rasus, hendak ke mana kau?”  “Pulang.”  “Jangan dulu. Jangan merajuk seperti itu. Kita bisa duduk-duduk sebentar di sini.”  Ternyata aku tak menolak ketika Srintil membimbingku duduk di akar beringin…. Tetapi baik Srintil maupun aku lebih suka membungkam mulut. Mestilah ronggeng kecil itu merasa sedang menghadapi seorang anak laki-laki yang akan mengalami kekecewaan. Srintil pasti tahu aku menyukainya. Jadi dia tahu pula bahwa malam bukak-klambu baginya menjadi sesuatu yang sangat kubenci. Hanya itu. Atau, apakah aku harus mengatakan secara jujur bahwa Srintil lebih kuhormati daripada kecintaan? Tidak. aku tak punya keberanian mengatakan hal itu kepadanya. Maka biarlah Srintil tetap pada pengertiannya tentang diriku secara tidak lengkap.  Seekor serangga kecil akhirnya membuka jalan bagi permulaan percakapan kami. Nyamuk belirik hinggap di pipi Srintil. Perutnya menggantung penuh darah.  “Srin, tepuk pipimu yang kanan. Ada nyamuk.”  “Aku tak dapat melihatnya.”  “Tentu saja. Tetapi tepuklah pipi kananmu agak ke atas pasti kena.”  “Tidak mau. Engkau yang harus menepuknya.”  “Tanganku kotor.”


















BAHASA INDONESIA  VIII / SEM 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar